UPAYA ALTERNATIF MASYARAKAT SAMBIREJO MANFAATKAN LAHAN PEKARANGAN (“Bukan Kelinci Percobaan”)

Kontributor : yunita
http://www.alha-raka.org | rini.mustofa.yunita@gmail.com

 

 

Usaha sampingan budidaya kelinci tengah dikembangkan oleh sebagian masyarakat di Desa Sambirejo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri. Usaha ini dilakukan untuk menjawab berbagai kebutuhan sehari-hari dalam situasi yang sulit sekarang ini. Selain untuk daging konsumsi, kelinci juga sedang digemari masyarakat sebagai binatang hias.

Wilayah Desa Sambirejo merupakan kawasan yang dibagi menjadi empat dusun yakni; Sambirejo, Suwaloh, Bulusoban, Nambakan, dan Wonosari. Wilayah tersebut secara geografis terletak pada kilometer 20 arah timur dari pusat kota Kediri, tepatnya di sebelah barat satu kilo meter dari Pasar Bendo Pare.

Area persawahan merupakan kawasan terbesar di desa ini, dan sektor pertanian menjadi penghasilan utama bagi masyarakat umum. Namun secara teretori desa ini berbeda dengan beberapa desa lainnya, jalan raya propinsi membelah hampir separo wilayah tersebut, dan akses pendidikan, kesehatan serta transportasi telah cukup tersedia di desa ini. Media telekomukasi seperti telepon rumah, dan jasa cellular juga banyak tersedia di desa Sambirejo.

Meski demikian apakah akses tersebut secara nyata sudah dirasakan oleh warga Sambirejo? Pada kenyataannya problem mendasar yakni pendidikan mahal, kesehatan buruk, ekonomi dibawah rata-rata masih menjadi problem nyata terjadi di masyarakat empat dusun ini, belum lagi problem tenaga kerja (penganguran) menjadi permasalahan krusial bagi penduduk yang mayoritas adalah petani.

Terlebih pada saat ini, kenaikan BBM, mahalnya biaya listrik, dan kebutuhan lainnya, menjadi beban yang sangat berat dirasakan oleh masyarakat secara umum. Situasi ini akhirnya menumbuhkan ide mandiri dari masyarakat Sambirejo untuk memanfaatkan lahan di sekitar rumah mereka sebagai modal usaha.

Beberapa orang warga desa diantaranya, Riyanto, Hadi, Pribadi dan Andik mencoba mengawalinya. Dimulai dengan acara kumpul-kumpul mereka membincangkan solusi alternatif dalam upaya mengembangkan usaha yang bermodal kekayaan alam desa yang sudah tersedia.

Perbincangan antar warga itu dilakukan secara inten pada bulan Juli 2008. Pada waktu itu secara tidak sengaja mereka bertemu dalam acara ‘nonton bareng’ (sepak bola) saat piala dunia 2008. Kemudian acara berlanjut dalam diskusi-diskusi kecil yang diikuti oleh salah satu anggota Perkumpulan Alha-raka, Azis Alkhaf, sampai akhirnya mereka menyepakati untuk melakukan kegiatan ekonomi budidaya kelinci, dengan pertimbangan banyak lahan kosong di sekitar rumah mereka yang belum dimanfaatkan.

“Kami memilih beternak kelinci karena binatang ini aman dikembangbiakkan disekitar rumah seperti layaknya beternak ayam atau kambing. Lain itu juga untuk memanfaatkan lahan sekitar rumah secara lebih maksimal,” kata Riyanto, salah satu warga yang memulai usaha pengembangbiakan kelinci.

Budidaya kelinci kiranya menjadi pilihan yang tepat karena secara geografis di desa Sambirejo dengan area pertaniannya yang luas terutama sawah sangat mendukung kebutuhan makanan bagi kelinci. “Memelihara kelinci merupakan salah satu usaha sampingan untuk menambah penghasilan. Daging kelinci sudah cukup dikenal oleh masyarakat sebagai konsumsi daging alternatif. Untuk binatang peliharaan, kelinci jenis hias saat ini sedang ngetren dimasyarakat dan harganya lumayan bagus. Selain itu pemeliharaan kelinci juga sangat mudah, dan untuk makanannya cukup banyak tersedia di sawah,” ujar Riyanto.

Pekerjaan Itu Tersedia di Sekitar Rumah
Untuk usaha ini modal yang dibutuhkan adalah lahan, persediaaan pakan (rumput), kandang yang nyaman, dan bibit. Permodalan ini tidak membutuhkan dana yang banyak dan terjangkau secara mandiri. “Untuk permodalanannya, usaha ini bisa diupayakan sendiri, terutama untuk lahan dan kandang. Biasanya kami membangun kandang tradisional di belakang atau samping rumah dari bahan bambu, atau bisa menggunakan kandang yang sudah ada bekas kandang ayam yang perlu pembenahan sedikit disesuaikan untuk kelinci. Dana untuk pengadaan bibit cukup dengan hanya Rp.200 ribu sampai Rp.1 juta. Harga per ekor dewasa mulai dari 50-100, dan untuk kelinci hias harganya fluktuatif. Minimal harus ada dua pasang kelinci jantan dan betina yang sudah dewasa yang dijadikan bibit modal (indukan) untuk kemudian dikembangkan,” kata Andik, warga Sambirejo yang cukup kreatif dalam memaksimalkan lahan sekitar rumah.

“Pada setiap empat puluh hari kelinci yang sudah dewasa itu mulai beranak, terus menerus sampai mereka tua dan tidak produktif lagi. Singkatnya kelinci merupakan jenis ternak yang sangat mudah berkembangbiak, sedangkan masalah pemeliharaan yang menjadi kendala adalah jenis penyakit kulit (kudis) yang obatnya dengan mudah bisa diperoleh di toko-toko obat sehingga masalah ini bisa di tangani secara mandiri oleh para peternak kelinci pada umumnya,” tambah Andik.

Yang menarik dari apa yang diupayakan oleh sebagian masyarakat di Sambirejo, menurut Andik, ternyata pekerjaan bagi masyarakat desa khususnya yang tidak bermodal ijazah dan pendidikan tinggi, adalah sesuatu yang berasal dari lingkungannya. Yaitu sesuatu yang adanya tidak jauh dari rumah dan bisa diciptakan sendiri. Makanya selain mengembangkan ternak kelinci, Andik juga membudidayakan pembibitan lele.

Akan Membangun Kelompok Usaha
Sementara ini, di Desa Sambirejo belum banyak yang memilih budidaya kelinci, namun untuk kedepan usaha ini akan dikembangkan menjadi usaha kelompok. Analisa pasar sementara daging kelinci dijual untuk kebutuhan komsumsi daging, melihat harga daging sapi, ayam, kambing yang terus naik dan ikan laut yang juga mahal. Daging kelinci ini bisa dikomsumsi secara langsung oleh keluarga sebagai kebutuhan daging alternatif, yang mana biasanya di olah sebagai menu sate, pengganti daging kambing dan tidak berkolesterol tinggi. Apalagi ada sugesti sebagian masyarakat bahwa daging kelinci berkasiat untuk obat kuat. Selain itu, kelinci bisa di jual sebagai hewan hias. Pemasarannya dilakukan di lokal Kediri maupun luar kota, seperti Malang, Pasuruan, Surabaya dan beberapa kota lain di pulau Jawa.

Beberapa hal itu menjadi peluang bagus untuk segment pasar daging kelinci, dan dari latar belakang inilah beberapa warga Desa Sambirejo hari ini mengembangkannya. Budidaya ini sudah berjalan kira-kira empat bulanan, dan ada lima peternak secara serius menggeluti usaha ini. Mereka sudah menjalani rutinitas penjualan dan distribusi ke pasar lokal utamanya di Pare dan Kediri. Dan kawasan tersebut (Desa Sambirejo) juga sudah sering didatangi para pedagang dari luar daerah.

“Jadi tidak usah jauh-jauh dan kesulitan mencari pembeli, tetapi para pedagang sudah pada berdatangan, tinggal bagaimana nantinya mengatur ritme pola penjualan, dan bagaimana pula dalam jangka panjang budidaya ini akan terwadahi dalam sebuah mekanisme usaha kelompok. Dalam bayangan kita bagaimana mengemas kelinci pedaging sebagai alernatif daging murah, dan kelinci hias sebagai andalan karya desa Sambirejo. Kami melihat pasar kelinci diluar kota bagus terutama untuk kelinci hias. Selain itu ternyata kulit kelinci bisa digunakan untuk bahan dasar kerajinan kulit seperti dompet, aksesoris dan lain-lain. Ini barangkali impian dari kami, bahwa usaha pendukung ini kedepan akan terwadahi dalam sebuah kelompok tani atau paguyuban warga,” kata Hadi, salah satu peternak kelinci.

“Hal ini sudah muncul dari beberapa pemikiran orang-orang yang sekarang sedang membudidayakan kelinci. Karena menurut kami, tanpa terwadahi dalam sebuah organisasi, sepertinya sulit untuk berkembang. Dengan organisasi itu nanti bagaimana kami bisa membangun akses jaringan, permodalan dan pasar,” kata Riyanto menegaskan.

Beberapa dari mereka juga melihat bagaimana kelompok pemuda PADASUA (Paguyuban Pemuda Sumber Alami) yang ada di Dusun Sumberejo Desa Jambu Kecamatan Kayen Kidul, yang berada di sebelah desa mereka bisa berkembang juga karena adanya wadah organisasi. Bahkan tidak hanya soal usaha tapi juga bagaimana mengembangkan potensi lain melalui organisasi lokal yang ada .

Pribadi, salah satu warga asal Sumberejo Jambu yang sekarang bertempat tinggal di Sambirejo karena menikah dengan perempuan desa tersebut, juga mempunyai harapan yang sama agar Desa Sambirejo seperti desa asalnya. “saya berharap di desa tempat tinggal saya sekarang juga ada sebuah wadah untuk mengembangkan usaha yang salah satunya diawali dari budidaya kelinci. Dan nantinya Sambirejo diharapkan bisa lebih maju dan berkembang karena ada banyak sekali potensi alam yang masih belum dikembangkan. Ya paling tidak nantinya bisa seperti desa Sumberejo Jambu yang maju dan berkembang karen ada organisasi,” ujarnya.

“Ini bukan sekadar usaha coba-coba karena kami yakin prospek kedepan cukup bagus. Masyarakat semakin lama akan terbiasa mengkonsumsi daging kelinci sebagai sate bahkan mungkin sebagai lauk pauk sehari-hari. Ini sangat mungkin karena daging kelinci juga tidak kalah lezatnya dan juga bergizi,” tutur Riyanto meyakinkan. (Azis Alkaf)

 

13 Balasan ke UPAYA ALTERNATIF MASYARAKAT SAMBIREJO MANFAATKAN LAHAN PEKARANGAN (“Bukan Kelinci Percobaan”)

  1. RRj mengatakan:

    Makyuss. Thanks.

  2. Sugeng Supriyono mengatakan:

    Ass. Wr.Wb,
    Saya tinggal di Ds, Paron, Ngasem, Kediri, sudah mulai beternak kelinci, jenis flam, rex, lion…..

    Pemasarannya bagaimana ?
    081359687409

  3. subendot mengatakan:

    bagi peternak yang mau jual ataupun cari indukan untuk pengganti indukan yang sudah afkir. kami siap melayani.silahkan kontak 085735069461 (BINA KARYA PEMUDA)

  4. subendot mengatakan:

    kenapa sih para peternak kelinci di kediri kurang greget terhadap EXPONAK yang diselenggarakan di ngadiluwih kemerin. padahal ini adalah salah satu ajang untuk promosi produk. apa peternak kelinci di daerah kediri dah kehilangan brengosnya? atau memang ndak punya produk yang MEMPER untuk ajang ini!!!!! huuuueii mana semangatmu ????? masa cuma cah NGASEM thokk sing wani, yang lain mana????

  5. dedy mengatakan:

    kalo udah ternak banyak. lalu jual le gmana. tlg kasih info dunk

    rumah ku plosoklaten

  6. dedy mengatakan:

    oh ya nomor hp ku 085755723254

  7. Legowo Kamarubayana mengatakan:

    Ide Menantang, TQ

  8. AZIZAH mengatakan:

    saya sedang butuh kelinci daging jika ada yg bisa bantu mohon hub saya di 085646547569/081945790782..makasih

  9. satyo mengatakan:

    dulu pernah saya usaha ternak kelinci tetapi bingung di pemasaran…kandas deh..ada yamg bisa bantu? pingin sih budidaya lagi…(total_access@ymail.com)

  10. putut sugiantoro mengatakan:

    saya memelihara kelinci,ada lebih dari 10 induk.jumlah sapihan ada 60 ekor.hub putut jl pesantren XIII no11 kediri

  11. Kanir Ponggok mengatakan:

    mas putut, kelincinya masih banyak ya? kalo indukan sekarang harganya berapa /ekor? saya mau beli kalo cocok harganya.

  12. dewantoroe mengatakan:

    no telp yang bisa di hub untuk peternak sambirjo berapa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: